Musisi Senior Ote Abadi 68 Tahun Tetap Produktif, Siapkan “Teluk Bayur 2” Sebagai Legacy Musik Indonesia

Jakarta ! DelapanPlus.com —

Di tengah dinamika industri musik nasional yang terus berkembang, seorang musisi senior Indonesia, Ote Abadi berusia 68 tahun, menunjukkan dedikasi yang tidak tergoyahkan terhadap dunia seni. Ia menegaskan bahwa perjalanan panjangnya dalam bermusik merupakan anugerah Tuhan yang senantiasa ia syukuri dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Dalam pernyataan resminya, ia menyampaikan bahwa musik bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian spiritual yang menghubungkannya dengan Sang Pencipta.

“Saya merasa apa yang saya jalani ini adalah anugerah Tuhan. Bermain musik seperti pengapian dan bentuk kesuburan rasa saya kepada Tuhan,” ujarnya dengan penuh makna.

Memasuki usia yang tidak lagi muda, ia tetap aktif mencipta, berkarya, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Konsistensinya dalam mengangkat tema kehidupan rakyat Indonesia menjadi ciri khas yang kuat dalam setiap karyanya.

Ote Abadi menghadirkan realitas sosial, keindahan alam, serta dinamika kehidupan masyarakat sebagai narasi musikal yang autentik dan relevan.

“Kelebihan yang Allah berikan kepada saya adalah menulis lagu tentang kehidupan rakyat Indonesia, tentang alam, laut, dan gejolak kehidupan yang saya lihat langsung,” ungkapnya, menegaskan kedekatannya dengan realitas yang ia tuangkan dalam karya.

Sebagai bentuk kesinambungan karya legendaris, ia kini tengah menyiapkan proyek kolaborasi bertajuk “Teluk Bayur 2” bersama penyanyi senior Ernie Djohan, peraih Golden Record, meski sekarang tengah terbaring sakit.

Proyek ini dirancang sebagai kelanjutan dari karya ikonik “Teluk Bayur”, dengan mempertahankan benang merah komposisi dan aransemen yang kuat, sekaligus menghadirkan sentuhan modern yang relevan dengan generasi saat ini.

Saat ini, proses produksi telah memasuki tahap persiapan video klip. Namun, dalam pelaksanaannya, ia menghadapi tantangan berupa minimnya dukungan dari pemerintah daerah. Ote Abadi mengungkapkan bahwa proposal telah diajukan kepada Pemerintah Kota Padang dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, namun hingga kini belum memperoleh tanggapan resmi.

“Saya berharap ada dukungan dari pemerintah daerah, terutama karena karya ini membawa nama Teluk Bayur hingga dikenal luas. Sampai hari ini, saya belum menerima respons, dan itu menjadi tanda tanya,” tegasnya secara lugas.

Ia menilai bahwa karya seni, khususnya musik yang mengangkat identitas daerah, seharusnya mendapatkan perhatian sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan penguatan citra daerah di tingkat nasional maupun internasional.

Di sisi lain, ia juga mengajak masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan moral kepada Ernie Djohan yang saat ini tengah dalam kondisi kurang sehat. Ia mengimbau agar doa dan semangat terus mengalir demi keberlanjutan karya musisi legendaris tersebut.

“Mari kita doakan beliau agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan, sehingga dapat terus berkarya untuk musik Indonesia,” ujarnya.

Dengan semangat yang tidak surut, ia menegaskan bahwa musik adalah jalan hidup yang akan terus ia jalani selama masih diberi kemampuan. Dedikasi, konsistensi, dan ketulusan menjadi fondasi utama dalam setiap langkah kreatifnya.

Karya boleh lahir dari zaman yang berbeda, tetapi nilai pengabdian sejati akan selalu melampaui waktu—dan dari situlah lahir warisan yang tidak hanya dikenang, tetapi juga menginspirasi generasi mendatang.

Ini menjadi penegasan bahwa dedikasi terhadap seni tidak mengenal batas usia, dan dukungan terhadap karya anak bangsa adalah tanggung jawab bersama demi menjaga identitas dan kebanggaan Indonesia di mata dunia.

)**Djunod / Tjoek / Foto Ist.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *