Delapanplus.com – Di tengah gemerlap panggung Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 yang digelar di Kartika Expo Center, Balai Kartini, Jakarta, Djadi Batik tampil memikat dengan koleksi terbarunya bertajuk “Tumbuh Mekar”. Tak sekadar menghadirkan keindahan visual, koleksi ini membawa pesan mendalam tentang kekuatan, kebijaksanaan, dan perjalanan batin perempuan melalui wastra Nusantara.
Usnul, pendiri Djadi Batik, menuturkan bahwa “Tumbuh Mekar” lahir dari perenungan tentang dua sosok: Siti Rahmah, istri Nabi Ayub yang terkenal dengan kesabarannya, dan Semar, tokoh pewayangan Jawa yang menjadi simbol kebijaksanaan.
“Siti Rahmah menggambarkan perempuan yang tidak hanya tumbuh, tapi juga mekar. Ia sabar, tangguh, dan berjuang melewati berbagai ujian. Kisahnya mengingatkan kita bahwa perempuan bisa tetap kuat dan memberi manfaat meski dalam keterbatasan,” ujar Usnul dengan suara bergetar, mengingat kembali nilai-nilai yang menginspirasi lahirnya koleksi ini.
Koleksi “Tumbuh Mekar” dibagi menjadi dua seri utama. Seri pertama, yang menampilkan motif Galar dan Bunga Kamboja, menggambarkan perjalanan perempuan menghadapi tantangan hidup.

Motif Galar diambil dari bambu yang harus dihancurkan dan diolah terlebih dahulu sebelum menjadi bahan bangunan, simbol proses panjang yang menempa kekuatan diri. Sementara Bunga Kamboja, dengan enam kelopak khasnya, melambangkan keteguhan dan keunikan setiap perempuan.
“Bunga kamboja itu tahan lama, bahkan tumbuh di tempat yang keras. Ia mengingatkan kita bahwa kecantikan sejati datang dari keteguhan,” jelas Usnul.
Dibuat dengan teknik batik tulis, setiap helai kain pada seri ini merupakan hasil ketelatenan tangan-tangan pengrajin. Detailnya halus, penuh makna, dan dilengkapi dengan lining yang kokoh, merepresentasikan kekuatan perempuan yang siap menghadapi dunia tanpa kehilangan kelembutan dan keanggunan.
Seri kedua menampilkan motif Kawung, salah satu motif klasik paling sarat makna dalam batik Jawa. Bagi Usnul, Kawung merefleksikan filosofi Semar, sosok bijak dengan perut gendut bukan karena rakus, melainkan karena mampu “menelan” segala bentuk nafsu dan keserakahan, lalu mengubahnya menjadi kebijaksanaan.
“Setiap manusia pasti pernah keliru. Tapi dengan kesadaran dan kebijaksanaan, kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik,” tutur Usnul.
Lebih dari sekadar busana, melalui “Tumbuh Mekar”, Usnul ingin mengajak masyarakat untuk menjadikan wastra Nusantara sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
“Saya ingin orang memakai batik seperti memakai jeans, nyaman, sederhana, dan bisa digunakan di berbagai kesempatan, Wastra kita bukan hanya milik acara formal, tapi bagian dari keseharian modern.” Jelas Usnul.
Pendekatan inilah yang membuat Djadi Batik dikenal sebagai label yang berani memadukan tradisi dan inovasi. Sebelumnya, Djadi Batik sempat mencuri perhatian publik lewat koleksi “Tegel Delapan” yang viral setelah dikenakan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada 2023. Koleksi itu terinspirasi dari bentuk tegel klasik segi delapan, simbol keberuntungan dalam budaya Jawa dan Tionghoa.

Tak hanya itu, Usnul juga dikenal karena keberaniannya menggabungkan batik tradisional dengan elemen hanbok Korea, menghasilkan perpaduan lintas budaya yang unik dan modern. Beberapa koleksi tersebut bahkan telah menembus pasar Singapura dan Malaysia, meski masih dalam skala terbatas.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor, Fajarini Puntodewi, yang turut hadir dalam JMFW 2026, menegaskan pentingnya inovasi dan kreativitas dalam memperkuat posisi produk Indonesia di pasar global. “Pelaku usaha seperti Djadi Batik membuktikan bahwa dengan ide-ide baru dan pemanfaatan kekayaan budaya lokal, produk kita bisa memiliki ciri khas kuat dan daya saing tinggi,” ungkapnya.
Melalui “Tumbuh Mekar”, Djadi Batik menghadirkan lebih dari sekadar keindahan busana. Ia menyulam filosofi keteguhan, kebijaksanaan, dan harapan di setiap helai kainnya, sebuah pengingat bahwa di balik setiap perempuan, selalu ada proses panjang yang membentuk keteguhan jiwa.
Dengan sentuhan penuh makna dan keberanian untuk terus bereksperimen, Djadi Batik menegaskan satu hal: wastra Nusantara bukan sekadar warisan, tapi juga masa depan mode Indonesia. (tyo)
