Jakarta ! DelapanPlus.com –
Di tengah sorotan publik yang kian menguat, Doktif atau dr Samira Farahnaz menyampaikan sikap tegas yang tak menyisakan ruang abu-abu. Ia memastikan tidak akan membuka peluang perdamaian dengan dr Richard Lee sebelum seluruh uang masyarakat yang diduga dirugikan dikembalikan sepenuhnya. Pernyataan tersebut disampaikan saat proses hukum masih berjalan di Polda Metro Jaya.
Kasus ini bermula dari laporan Doktif terhadap Richard Lee terkait dugaan pelanggaran perlindungan konsumen atas produk serta treatment kecantikan.
Laporan itu resmi terdaftar pada 2 Desember 2024, dan berlanjut dengan penetapan Richard Lee sebagai tersangka pada 15 Desember 2025.
Perkembangan perkara ini menjadi perhatian luas karena menyentuh langsung hak konsumen dalam industri kecantikan yang terus tumbuh pesat.

Doktif mengungkapkan bahwa upaya komunikasi untuk perdamaian telah beberapa kali dilakukan, termasuk melalui pihak kuasa hukum ternama. Namun, sikapnya tetap konsisten dan tidak berubah.
“Sampai kemarin juga Bang Hotman menghubungi Doktif. Apakah mungkin ada perdamaian? Dan Doktif katakan tidak akan ada perdamaian sebelum ratusan miliar uang masyarakat yang dia ambil dikembalikan ke masyarakat. Itu hak masyarakat,” tegas Doktif.
Dalam kesempatan yang sama, Doktif turut menanggapi laporan balik yang dilayangkan Richard Lee terhadap dirinya di Polres Jakarta Selatan atas dugaan pencemaran nama baik. Ia menekankan bahwa permintaan penundaan pemeriksaan yang diajukan bukanlah bentuk penghindaran hukum, melainkan permintaan keadilan yang setara.
Doktif menjelaskan bahwa sebelumnya Richard Lee juga pernah mengajukan penundaan pemeriksaan dalam kasus yang ancaman hukumannya jauh lebih berat. Oleh karena itu, ia menilai wajar jika dirinya memperoleh perlakuan hukum yang sama.
“Jadi bukan mangkir, tapi meminta penundaan sesuai dengan apa yang dia lakukan sebelumnya. Kita hanya meminta keadilan yang sama,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah pengembalian uang kepada konsumen menjadi satu-satunya syarat perdamaian, Doktif menjawab tanpa ragu.
“Betul,” katanya singkat namun tegas.
Lebih jauh, Doktif menegaskan bahwa sikap ini telah ia sampaikan sejak awal pelaporan. Ia bahkan mengaku telah menyampaikan langsung pesan tersebut kepada rekan sejawat Richard Lee, jauh sebelum kasus ini berkembang sejauh sekarang.
“Kalau memang ingin damai, bukan ke Doktif ganti ruginya, tapi ke masyarakat yang sudah dia rugikan. Jumlahnya ratusan miliar. Jadi silakan,” pungkasnya.
Kasus ini kini tidak lagi semata soal konflik antarindividu, melainkan telah menjelma menjadi ujian serius bagi penegakan hukum, perlindungan konsumen, dan tanggung jawab moral pelaku usaha.
Ketegasan Doktif menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama, sekaligus menjadi pengingat bahwa keadilan sejati tidak lahir dari kompromi, melainkan dari keberanian menegakkan kebenaran sampai tuntas—tanpa tawar, tanpa celah, dan tanpa dusta.
)***Donz / Foto Ist.
