Jakarta (DelapanPlus) :
Nama Dude Harlino kembali menjadi sorotan tajam publik. Bukan karena peran sinetronnya yang memikat, melainkan akibat keputusan profesionalnya sebagai brand ambassador dua merek besar: Dana Syariah Indonesia (DSI) dan Roti ’O. Dua pilihan yang semula tampak menjanjikan, kini justru berujung pada badai kontroversi yang sulit dihindari.
Kasus pertama datang dari DSI, perusahaan fintech lending berbasis syariah yang kini terseret persoalan serius. Ribuan lender dilaporkan belum menerima pengembalian dana dengan nilai fantastis mencapai Rp1,3 triliun. Situasi ini memicu kegelisahan massal dan melahirkan Paguyuban Lender DSI, sebagai wadah perjuangan para pemberi pinjaman yang merasa dirugikan.
Dalam kanal YouTube Curhat Bang milik Denny Sumargo, Dude Harlino menjelaskan posisinya secara terbuka. Ia menegaskan keterlibatannya hanya sebatas duta merek, tanpa campur tangan dalam urusan internal maupun operasional perusahaan. Keputusan menerima tawaran DSI, menurut Dude, didasari status perusahaan yang telah mengantongi izin OJK serta membawa embel-embel syariah—sebuah nilai yang secara personal selaras dengan keyakinannya sebagai seorang Muslim.

Tak berhenti di situ, Dude bahkan mengungkapkan bahwa dirinya dan sang istri, Alyssa Soebandono, sempat menjadi pendana langsung. Pengalaman awal yang berjalan lancar membuat kepercayaan tumbuh. Namun kenyataan berkata lain. Jika benar Dude termasuk salah satu dari 4.545 lender yang dananya tertahan, maka badai ini bukan hanya soal citra, melainkan juga kerugian personal.
Belum reda isu DSI, publik kembali dihebohkan dengan kontroversi Roti ’O. Sebuah video viral memperlihatkan seorang nenek ditolak saat hendak membeli roti karena hanya membawa uang tunai. Kebijakan pembayaran non-tunai ini memantik kritik luas. Pegiat perlindungan konsumen, Bank Indonesia, hingga YLKI menilai kebijakan tersebut melanggar aturan tentang alat pembayaran yang sah.
Nama Dude kembali terseret karena wajahnya kerap menghiasi poster dan papan iklan Roti ’O. Sempat beredar kabar bahwa ia adalah pemilik merek tersebut. Namun setelah ditelusuri, informasi itu tidak benar. Dude Harlino murni berstatus brand ambassador, sementara pemilik Roti ’O adalah Rifqy Muhammed, pengusaha asal Surabaya.
Dua kasus ini memperlihatkan satu pelajaran penting: popularitas tidak selalu sejalan dengan keamanan reputasi. Di era digital yang serba cepat, satu keputusan bisa berdampak panjang dan berlapis. Bagi figur publik, kehati-hatian memilih afiliasi bukan lagi opsi, melainkan keharusan mutlak.
Pada akhirnya, kisah Dude Harlino menjadi cermin keras tentang risiko di balik gemerlap kerja sama merek. Ketika kepercayaan publik diuji, yang tersisa bukan sekadar klarifikasi, melainkan pertaruhan nama baik yang dibangun bertahun-tahun—dan itulah akhir yang benar-benar terenginas, mantap, sekaligus menohok kesadaran kita semua.
)**Donz / Foto Ist
