Pemalang (DelapanPlus) :
Rembuk stunting di Desa Rowosari, Pemalang menitikberatkan pada penguatan layanan posyandu, terutama pemenuhan sarana dan prasarana yang masih terbatas. Inilah komitmen pencegahan stunting terus diperkuat hingga menyentuh denyut kehidupan desa.
Sosialisasi Program Bangga Kencana bersama mitra kerja digelar di Pendopo Balai Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Sabtu, 20 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi ruang temu strategis antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, kuat, dan berdaya saing.
Hadir sebagai narasumber, Tamariyah, Amd.Keb., Koordinator Lapangan Dinas KB Kabupaten Pemalang, menegaskan bahwa ini bukan seremoni belaka, melainkan langkah konkret menjawab persoalan riil di lapangan.

Menurut Tamariyah, isu utama yang dibahas mencakup pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita serta ketersediaan alat pendukung posyandu yang belum memadai. Di Desa Rowosari terdapat beberapa posyandu aktif, namun sebagian masih kekurangan instrumen penting untuk memantau tumbuh kembang anak secara optimal.
“Seluruh kebutuhan ini telah dibahas dalam rembuk stunting tingkat desa dan akan segera dikoordinasikan ke tingkat kecamatan,” ujar Tamariyah.
Ia mengungkapkan, jumlah balita di Desa Rowosari mencapai lebih dari 200 anak, dengan sebagian di antaranya teridentifikasi mengalami stunting. Fakta ini menjadi alarm bersama bahwa pencegahan tidak bisa ditunda, melainkan harus dilakukan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan.
Tamariyah berharap, melalui penguatan rembuk stunting, kualitas layanan posyandu semakin meningkat dan kesadaran para ibu yang memiliki balita terus tumbuh untuk rutin memanfaatkan layanan posyandu. Menurutnya, posyandu adalah benteng pertama dalam menjaga generasi dari ancaman gagal tumbuh.
“Jika posyandu kuat, maka pertumbuhan balita akan semakin baik,” tegasnya.
Terkait keterbatasan sarana, Tamariyah mendorong agar kebutuhan posyandu dapat dianggarkan melalui dana desa. Ia menekankan bahwa penanganan stunting merupakan program nasional yang wajib didukung oleh kebijakan dan alokasi anggaran di tingkat desa. Pada tahun-tahun sebelumnya, dukungan anggaran dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan riil masyarakat.
“Dengan penambahan prasarana, posyandu bisa bekerja lebih optimal. Ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk anak cucu kita di masa depan,” pungkasnya.
Sosialisasi Program Bangga Kencana yang dirangkai dengan rembuk stunting ini menegaskan bahwa desa memegang peran strategis dalam memutus mata rantai stunting. Ketika perencanaan desa berpihak pada kesehatan anak, maka masa depan bangsa sedang dijaga sejak dari akar rumput.
Sebab stunting bukan sekadar angka statistik, melainkan luka sunyi yang hanya bisa disembuhkan dengan kesadaran kolektif dan keberanian mengambil keputusan hari ini. Membangun bangsa tidak selalu dimulai dari gedung tinggi, tetapi dari balai desa yang berani menjaga tumbuh kembang generasi penerusnya.
Karena masa depan bangsa ditentukan hari ini, dan keberanian desa adalah jawabannya.
)**Yuri / Foto Ist
