Diding Boneng Memilih Panggung Kecil, Kelas Sederhana, dan Rumah Tua, Di Sanalah Api Pengabdian Tetap Menyala

Jakarta (DelapanPlus) :

Nama Diding Boneng bukan sekadar aktor senior. Ia adalah napas panjang dunia seni peran Indonesia yang masih bertahan, bahkan ketika usia dan kesehatan mulai menguji keteguhan raga. Meski tak lagi seaktif dahulu menerima tawaran syuting, Diding membuktikan bahwa dedikasi tidak pernah benar-benar pensiun.

Aktor bernama asli Zainal Abidin, kelahiran 3 Maret 1950, kini memilih jalan yang lebih bersahabat dengan kondisi kesehatannya. Asma yang ia derita membuat aktivitas fisik berat tak lagi memungkinkan. Namun, alih-alih berhenti, Diding justru memindahkan pusat pengabdiannya ke panggung teater dan ruang kelas kampus.

Belakangan, perhatian publik kembali tertuju padanya setelah rumah yang ia tempati di kawasan Matraman Dalam, Pegangsaan 2, Jakarta Pusat, roboh. Rumah tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan warisan keluarga yang telah berdiri hampir satu abad, peninggalan kakek dan neneknya. Dengan ketekunan, Diding perlahan membangun kembali rumah itu—seperti membangun kembali ingatan, sejarah, dan jati diri.

Meski kondisi fisiknya tak lagi prima, semangat Diding di dunia teater nyaris tak pernah padam. Ia tetap rutin hadir, meski harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan gerak.

“Kalau teater, insyaallah saya rutin. Walaupun cuma duduk, yang lain latihan saya duduk. Nggak apa-apa, karena saya belum mampu bergerak,” ungkapnya jujur.

Kejujuran itu justru menjadi kekuatannya. Ia tidak memaksakan diri, tetapi juga tidak menyerah. Intensitas kehadirannya di teater memang tidak menentu, sebab Diding menangani beberapa grup sekaligus. Namun satu hal pasti, hampir setiap hari ia masih berada di ruang latihan, menjadi saksi sekaligus pengarah proses kreatif generasi berikutnya.

Selain aktif di teater, Diding Boneng juga dikenal sebagai pengajar akting yang kerap diundang oleh institusi pendidikan. Permintaan membimbing kelas biasanya datang secara kolektif, atas nama kampus, bukan secara personal. Beberapa kampus yang pernah ia datangi antara lain IPB Bogor dan Unisma Bekasi.

Baginya, mengajar bukan sekadar menyampaikan teknik akting. Ia mentransfer pengalaman hidup, etika panggung, dan cara bertahan di dunia seni yang keras namun jujur. Tak heran, kehadirannya selalu dinanti mahasiswa yang ingin belajar langsung dari pelaku sejarah.

Demi mengajar, Diding sempat mengontrak di Bekasi agar tidak perlu bolak-balik Jakarta. Namun setelah masa mengajarnya selesai, ia memilih kembali pulang.

“Sekarang ngajarnya sudah selesai, jadi saya pulang. Udah nggak di Bekasi lagi. Pulang ke sini, ke Tanah Air. Saya lahir di sini,” ujarnya mantap.

Kalimat sederhana itu menyiratkan makna mendalam. Bagi Diding Boneng, pulang bukan sekadar kembali ke rumah, tetapi kembali ke akar, ke tempat di mana hidup dan seni pertama kali bertemu.

Di usia senja, Diding mungkin tak lagi sering muncul di layar kaca, tetapi ia tetap hadir di ruang-ruang yang lebih sunyi namun bermakna. Ia memilih panggung kecil, kelas sederhana, dan rumah tua yang dibangun ulang dengan kesabaran. Di sanalah api pengabdian itu tetap menyala.

Diding Boneng mengajarkan satu hal penting: ketika tubuh mulai lelah, jiwa tetap bisa bekerja; ketika sorot kamera meredup, cahaya keteladanan justru semakin terang. Dan pada akhirnya, bukan seberapa sering kita terlihat, tetapi seberapa dalam kita memberi arti.

Seni mungkin berubah zaman, panggung bisa berganti rupa, tetapi dedikasi sejati selalu menemukan jalannya sendiri—diam, konsisten, dan tak pernah benar-benar padam.

)**Doz/ Foto Ist

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *