Surabaya ! Delapanplus.com – Bulan suci Ramadhan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah spiritual, tetapi juga menjadi ruang refleksi sosial untuk memperkuat kepedulian dan kolaborasi dalam membangun kesejahteraan umat. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Surabaya, yang menghadirkan berbagai tokoh wakaf, unsur pemerintah, serta lembaga filantropi Islam di Jawa Timur.
Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum diskusi strategis mengenai penguatan peran wakaf sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Hadir dalam kegiatan tersebut KH. Misbahul Munir selaku Pembina Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat, yang memberikan tausiyah dan pandangan strategis mengenai arah pengembangan wakaf di Indonesia.
Turut hadir pula Dr. Mustain sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia Provinsi Jawa Timur, serta Prof. Dr. H. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia Kota Surabaya. Kehadiran para tokoh wakaf ini menunjukkan komitmen bersama untuk terus memperkuat ekosistem wakaf di Jawa Timur yang memiliki potensi sangat besar.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh unsur pemerintah daerah dan lembaga filantropi Islam, di antaranya Bapak Arif selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Kemasyarakatan Pemerintah Kota Surabaya, serta H. Hamzah sebagai Komisioner Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Surabaya. Kehadiran berbagai elemen tersebut menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam membangun sistem filantropi Islam yang lebih kuat dan berkelanjutan di Surabaya.
Dalam tausiyahnya, KH. Misbahul Munir menekankan bahwa pengelolaan wakaf di era modern memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Ia mengungkapkan bahwa konsep pentahelix menjadi salah satu pendekatan strategis yang dapat memperkuat pengelolaan wakaf secara lebih profesional dan berdampak luas.
Model pentahelix sendiri menekankan kolaborasi antara lima unsur utama, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan media. Melalui sinergi tersebut, wakaf dapat dikelola secara lebih sistematis dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, potensi wakaf di Indonesia sangat besar dan belum sepenuhnya dioptimalkan. Apabila dikelola secara profesional dengan dukungan berbagai pihak, wakaf dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi umat.
“Wakaf memiliki kekuatan besar dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Dengan pengelolaan yang profesional dan dukungan sinergi berbagai pihak, wakaf dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi umat yang berkelanjutan,” ujar KH. Misbahul Munir.
Ia juga menjelaskan bahwa paradigma wakaf saat ini telah berkembang menuju konsep wakaf produktif, yaitu pengelolaan aset wakaf yang tidak hanya bersifat konsumtif tetapi mampu menghasilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Wakaf produktif dapat dikembangkan dalam berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pengembangan usaha sosial berbasis wakaf.
Sementara itu, Dr. Mustain selaku Ketua BWI Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa wilayah Jawa Timur memiliki potensi wakaf yang sangat besar, baik berupa tanah wakaf yang tersebar di berbagai daerah maupun potensi wakaf uang yang terus berkembang di masyarakat.
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan profesionalitas nazhir wakaf agar mampu mengelola aset wakaf secara transparan, akuntabel, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa BWI Jawa Timur terus mendorong berbagai program edukasi dan penguatan kelembagaan bagi para pengelola wakaf agar pengelolaan wakaf dapat dilakukan secara lebih modern dan profesional.
Di sisi lain, Prof. Dr. H. Achmad Muhibbin Zuhri, M.Ag., Ketua BWI Kota Surabaya, menyampaikan bahwa kota Surabaya memiliki peluang besar dalam mengembangkan berbagai inovasi wakaf produktif berbasis perkotaan. Sebagai kota metropolitan dengan dinamika ekonomi yang tinggi, Surabaya memiliki potensi besar dalam pengembangan wakaf pendidikan, wakaf kesehatan, serta program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, penguatan kolaborasi antara lembaga wakaf, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta komunitas masyarakat menjadi kunci dalam mengembangkan pengelolaan wakaf yang inovatif dan berkelanjutan.
“Kegiatan silaturahmi Ramadhan seperti ini tidak hanya mempererat ukhuwah Islamiyah, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi, koordinasi, serta kerja sama dalam mengembangkan wakaf sebagai salah satu pilar pemberdayaan ekonomi umat,” ungkapnya.
Momentum Ramadhan yang sarat dengan nilai kepedulian sosial menjadi pengingat bahwa filantropi Islam memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan ekonomi masyarakat. Wakaf sebagai salah satu instrumen filantropi Islam memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan sosial yang berkelanjutan.
Melalui penguatan sinergi pentahelix antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas masyarakat, dan media, diharapkan pengelolaan wakaf di Jawa Timur dapat semakin berkembang secara profesional, inovatif, serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Kegiatan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh BWI Kota Surabaya ini pun menjadi simbol penting bahwa penguatan wakaf membutuhkan komitmen bersama dari berbagai pihak. Dengan kolaborasi yang kuat, wakaf diharapkan mampu menjadi kekuatan sosial ekonomi umat yang memberikan manfaat tidak hanya bagi generasi saat ini, tetapi juga bagi generasi mendatang. (Sukma)
