Delapanplus.com – Musim kemarau panjang dan ancaman polusi udara di Jakarta membuat aksi pawang hujan Rara Istiati Wulandari kembali menjadi perhatian publik. Melalui ritual memanggil hujan yang disertai doa-doa, Rara berharap hujan turun untuk membantu mengurangi polusi udara sekaligus mengatasi kekeringan di sejumlah wilayah.
Musim kemarau panjang tahun ini di Indonesia dimulai secara bertahap sejak April hingga Juni 2023, dengan puncak kekeringan terjadi pada Juli hingga Agustus 2023 akibat pengaruh fenomena El Niño.
Fenomena El Niño yang terjadi pada periode tersebut disebut turut memengaruhi berkurangnya pembentukan awan hujan. Kondisi ini membuat sejumlah daerah mengalami musim kemarau berkepanjangan, sementara kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya menghadapi persoalan polusi.
Minimnya hujan juga membuat partikel polutan di udara tidak mudah tersapu oleh air hujan. Akibatnya, masyarakat semakin menaruh perhatian terhadap kondisi lingkungan dan kebutuhan akan curah hujan.
Di tengah situasi tersebut, Rara melakukan ritual dengan berbekal sejumlah kantong berisi es batu. Aksinya dibagikan melalui akun Instagram @rarapawang_cahayatarot pada Minggu, 27 Agustus 2023.
Dalam unggahannya, Rara menyampaikan harapan agar hujan segera turun di kawasan Jabodetabek dan wilayah lain yang membutuhkan air.

“Yuk bisa yuk hujan. Mengurangi polusi buat bawah langit Jabodetabek daerah di atas kepalaku dan wilayah lainnya yang membutuhkan curah hujan, kekeringan sumurnya,” ujar Rara dalam video tersebut.
Tak lama setelah unggahan itu dibagikan, sejumlah warganet melaporkan hujan turun di wilayah mereka. Kolom komentar pun dipenuhi ungkapan syukur dan respons positif dari masyarakat.
“Alhamdulillah Ciputat Tangsel hujan,” tulis seorang warganet.
“Alhamdulillah Sentul Bogor hujan deras,” tulis warganet lainnya.
“Terima kasih Mbak Rara, Cibinong Kabupaten Bogor hujan,” tulis pengguna Instagram lainnya.
Laporan tersebut membuat aksi Rara semakin ramai diperbincangkan. Sejumlah warganet mengungkapkan kekaguman mereka terhadap ritual yang dilakukan perempuan yang dikenal luas sebagai pawang hujan tersebut.
Nama Rara sendiri semakin dikenal publik ketika ia tampil sebagai pawang hujan dalam ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Saat itu, aksinya menjadi sorotan setelah cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai petir menjadi perhatian dalam penyelenggaraan balapan.
Meski ritual memanggil hujan menarik perhatian masyarakat, fenomena hujan tetap dipengaruhi proses atmosfer, termasuk kelembapan udara, suhu, tekanan udara, dan pembentukan awan. Belum ada bukti ilmiah yang memastikan bahwa ritual pawang hujan dapat menyebabkan turunnya hujan.
Di tengah kemarau dan persoalan polusi udara, peristiwa ini kembali memunculkan perbincangan mengenai hubungan manusia dengan alam, kepercayaan terhadap ritual tradisional, serta pentingnya menjaga lingkungan dan mengantisipasi dampak perubahan cuaca. (djunot)











