Delapanplus.com – Sambas Mangundikarta, salah satu legenda penyiaran Indonesia, mendapat penghormatan melalui perayaan satu abad kelahirannya bertajuk 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta. Acara ini digelar di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, RRI Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026), untuk mengenang perjalanan dan kontribusinya bagi dunia penyiaran nasional.
Peringatan tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali sosok Sambas Mangundikarta yang dikenal luas sebagai penyiar radio, komentator olahraga, dan wartawan. Dedikasinya selama puluhan tahun meninggalkan jejak penting dalam perkembangan penyiaran Indonesia, baik melalui radio maupun televisi.
Acara yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB itu memadukan diskusi penyiaran dan pertunjukan musik. Masyarakat juga dapat mengikuti rangkaian kegiatan melalui siaran langsung di kanal YouTube RRI Jakarta.
Bagi penyelenggara, penghormatan kepada Sambas Mangundikarta bukan sekadar mengenang sosok yang telah menjadi bagian dari sejarah media. Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali perjalanan dan karya-karyanya kepada generasi muda, sekaligus mengingat nilai profesionalisme yang melekat pada kiprahnya.
Ketua panitia Tika Bisono mengatakan, kegiatan tersebut dirancang untuk menghadirkan kembali karya-karya Sambas Mangundikarta yang pernah dikenal masyarakat. Salah satunya adalah lagu “Manuk Dadali”, yang dijadwalkan dibawakan oleh penyanyi Hetty Koes Endang.
Kehadiran musik dalam acara ini menjadi bagian dari upaya mengenang sisi lain Sambas Mangundikarta, sekaligus mempertemukan warisan karya dan perjalanan hidupnya dengan masyarakat masa kini.
Selain pertunjukan musik, panitia menghadirkan sejumlah narasumber dari bidang pemerintahan, komunikasi, dan penyiaran, yakni Adhyaksa Dault, M. Kabul Budiono, Yassir Den Has, dan Brigitta Isworo Laksmi.
Isabella Fawzi bertugas sebagai pembawa acara, sementara Tika Bisono memandu diskusi. Fadhil Indra dan Inge Sambas turut mengisi rangkaian kegiatan tersebut.

Penyelenggaraan tribute ini melibatkan keluarga, komunitas penyiar, LPP RRI Jakarta, Bank Indonesia, dan Tibis Sinergi Cendekia Consulting Firm. Sebanyak 17 orang terlibat dalam persiapan acara yang dipimpin Tika Bisono dan Inge Sambas.
Tika Bisono mengatakan, panitia berharap kegiatan tersebut dapat menjangkau 3.000 penonton melalui siaran langsung, termasuk masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia dan diaspora.
Jangkauan digital itu diharapkan membantu memperluas pengenalan sosok Sambas Mangundikarta kepada publik. Dengan demikian, penghormatan terhadap tokoh penyiaran tidak hanya berlangsung di ruang acara, tetapi juga dapat diakses oleh masyarakat yang ingin mengenal sejarah media Indonesia.
Sambas Mangundikarta lahir di Bandung pada 21 September 1926. Perjalanan profesionalnya di Radio Republik Indonesia (RRI) dimulai pada 1952, setelah sebelumnya terlibat dalam Radio Perjuangan Jawa Barat.
Pengalaman pada masa perjuangan kemerdekaan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Situasi perang bahkan membuat Sambas harus berpindah dari Bandung ke sejumlah kota di Jawa.
Dari radio, Sambas Mangundikarta kemudian mengembangkan karier sebagai komentator olahraga dan wartawan lapangan. Ia meliput berbagai pertandingan penting, termasuk Thomas Cup 1961 yang berlangsung di Indonesia.
Pada 1962, Sambas Mangundikarta bergabung dengan Televisi Republik Indonesia (TVRI), ketika televisi nasional tersebut menyiarkan Asian Games IV di Jakarta. Kariernya berlanjut melalui peliputan berbagai kompetisi internasional, seperti All England, Thomas Cup di Kuala Lumpur, dan Uber Cup di Tokyo pada 1981.
Pengalaman tersebut menempatkan Sambas Mangundikarta sebagai salah satu figur yang turut mewarnai perkembangan penyiaran olahraga Indonesia. Ia dikenal melalui kemampuannya menyampaikan informasi pertandingan dengan karakter suara yang tegas, tenang, dan informatif.
Kiprah Sambas Mangundikarta memperlihatkan bahwa menjadi penyiar dan komentator tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara. Penguasaan materi, ketelitian, serta kemampuan menyampaikan informasi secara jelas menjadi bagian penting dari profesi tersebut.
Karakter itulah yang membuat sosoknya layak dikenang lintas generasi. Di tengah perubahan teknologi dan pola konsumsi media, pengalaman Sambas Mangundikarta tetap dapat menjadi referensi mengenai pentingnya kualitas informasi dan tanggung jawab seorang penyiar kepada publik.
Sambas Mangundikarta meninggal dunia pada 30 Maret 1999 dalam usia 72 tahun. Meski telah berpulang, kontribusinya terhadap perkembangan penyiaran radio Indonesia tetap mendapat pengakuan. Pada 2022, Komisi Penyiaran Indonesia memberikan Lifetime Achievement Award sebagai bentuk penghormatan atas kiprahnya.
Wakil ketua panitia Heri Putranto menjelaskan, kegiatan peringatan satu abad ini bertujuan menginspirasi insan jurnalistik, penyiaran, dan komunikasi, sekaligus menghidupkan kembali warisan Sambas Mangundikarta bagi generasi penerus.
Penghormatan tersebut juga diwujudkan melalui konsep panggung yang menggunakan ornamen penjor merah putih sebagai simbol nasionalisme. Konsep itu merujuk pada sejarah Radio Perjuangan Jawa Barat dan perjalanan Sambas Mangundikarta dalam dunia penyiaran.
Panitia turut menyampaikan rencana melibatkan pemerintah daerah Bandung dan Subang pada 2027 untuk mengembangkan penghormatan terhadap Sambas Mangundikarta melalui perspektif kebudayaan Sunda. Rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut dan kepastian pelaksanaan.
Lebih jauh, peringatan ini membuka ruang bagi upaya pelestarian sejarah penyiaran Indonesia. Rekaman siaran, dokumentasi perjalanan karier, dan pengalaman para penyiar senior dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi generasi baru.
Sambas Mangundikarta bukan hanya bagian dari masa lalu penyiaran Indonesia. Perjalanan hidup dan profesionalismenya menyimpan pelajaran tentang dedikasi, penguasaan bidang, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Melalui Tribute to Sambas Mangundikarta, penghormatan terhadap sang legenda diharapkan tidak berhenti pada perayaan satu hari. Warisan dan inspirasinya perlu terus diperkenalkan agar generasi penerus memahami perjalanan para pendahulu yang ikut membangun dunia penyiaran nasional.
Seratus tahun sejak kelahirannya menjadi pengingat bahwa sosok besar dalam industri media tidak hanya dikenang melalui nama dan pencapaiannya, tetapi juga melalui nilai-nilai yang terus diterapkan oleh generasi setelahnya. (djunot)










