Deskripsi gambar

IES 2026 Hadir di Masjid Istiqlal, Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Lewat Bisnis, Investasi, dan Teknologi

Delapanplus.com – Penguatan ekosistem ekonomi syariah Indonesia terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pelaku usaha, investor, lembaga keuangan, industri halal, hingga pengembangan teknologi. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Indonesia Ekonomi Syariah (IES) 2026 Forum & Expo di Plaza Bata Merah, Masjid Istiqlal, Jakarta, pada 30 Oktober hingga 1 November 2026.

Mengusung tema Meeting Point Ekonomi Syariah Indonesia, IES 2026 menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan untuk mempertemukan gagasan, peluang bisnis, sumber permodalan, investasi, dan inovasi teknologi dalam satu platform.

Kegiatan yang dibuka Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., pada Jumat (30/10/2026) pukul 14.00 WIB ini dirancang untuk memperluas jaringan kerja sama sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Penyelenggaraan IES 2026 dilatarbelakangi kebutuhan untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang lebih terintegrasi. Sebab, ekonomi syariah tidak hanya berkaitan dengan perbankan dan produk halal, tetapi juga mencakup industri, perdagangan, investasi, teknologi digital, pengembangan sumber daya manusia, ekonomi sosial, hingga keberlanjutan lingkungan.

Melalui forum dan pameran ini, berbagai potensi yang selama ini tersebar di sejumlah sektor diharapkan dapat saling terhubung dan berkembang menjadi peluang ekonomi yang konkret.

IES 2026 Hadir di Masjid Istiqlal

IES 2026 mengangkat delapan dimensi utama ekonomi syariah, yakni keuangan dan permodalan syariah, ekonomi digital, industri halal, gaya hidup Muslim, ekonomi produktif, ekonomi sosial Islam, ekonomi hijau dan berkelanjutan, serta pengembangan sumber daya manusia dan pengetahuan.

Kedelapan dimensi tersebut memperlihatkan bahwa sektor keuangan syariah memiliki peluang untuk mendukung pembiayaan berbagai kegiatan produktif, mulai dari UMKM, industri halal, pertanian, energi, hingga pengembangan teknologi.

Dengan pendekatan ekosistem, IES 2026 ingin mempertemukan kebutuhan pelaku usaha dengan solusi pembiayaan, memperluas akses pasar, serta membuka peluang investasi dan kemitraan.

Selama tiga hari penyelenggaraan, IES 2026 menghadirkan berbagai agenda forum, talkshow, pameran produk dan jasa berbasis syariah, marketplace, hingga kegiatan pengembangan kapasitas pelaku usaha.

Pada hari pertama, salah satu pembahasan yang diangkat adalah finansial derivatif syariah dengan menghadirkan Alidiansyah, Analyst Pengembangan Produk Syariah Bursa Efek Indonesia; Dr. Amuwsyah Tambunan, Sekjen MUI Pusat; serta Ahsanul Haq, Direktur Utama Istiqlal Global Fund (IGF).

Selain itu, terdapat talkshow mengenai pengembangan ekonomi kreatif syariah yang menghadirkan Neno Warisman selaku Ketua Komite Santri Film Festival dan sutradara Fajar Bustomi. Diskusi tersebut membahas inisiasi dan pengembangan industri kreatif berbasis nilai-nilai syariah.

Memasuki hari kedua, 31 Oktober 2026, perhatian diarahkan pada pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan robotika dalam kurikulum pendidikan pesantren. Talkshow ini melibatkan pemateri dari Google Indonesia, Perkumpulan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI), serta Forum Pesantren se-Jakarta dan sekitarnya.

Agenda lainnya membahas Masjid Istiqlal sebagai destinasi wisata ramah Muslim dengan menghadirkan Dr. KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc., M.A. dari Badan Pengelola Masjid Istiqlal dan Dr. Fitry Primadona dari Kementerian Pariwisata.

Sementara itu, pengusaha dan investor Sandiaga Uno dijadwalkan membawakan materi bertema Perspektif Investor: Bisnis Syariah Apa yang Menarik untuk Didanai? Pembahasan ini diharapkan memberikan gambaran mengenai potensi bisnis syariah yang dapat dikembangkan melalui dukungan investasi.

Pada hari ketiga, 1 November 2026, pembahasan berlanjut pada ekonomi hijau melalui talkshow Green Ekonomi Syariah: Dari HALAL Menuju TOYYIB. Sejumlah penggerak komunitas ekonomi hijau akan berbagi pengalaman, di antaranya Hendra dari Lembaga Bantu Bumi, Irfan Nugroho dari Komunitas Saung Jingga, Yose Sano dari Kampung Wakaf Solo, serta Fajar Shodiq dari Fortiss Pesantren Gontor.

IES 2026 Hadir di Masjid Istiqlal

Lembaga Zakat dan Wakaf (Zawa) Masjid Istiqlal juga menghadirkan workshop Inkubasi Nadzir Wakaf Uang oleh Masjid. Program ini menghadirkan Dr. Budi Utomo, Lc., M.A. selaku Direktur Zawa BP Masjid Istiqlal dan Dr. Ali Fauzan, Lc., M.Sos. selaku Direktur Kerja Sama Biro Konsultan Perencanaan Wakaf Indonesia.

Dalam workshop tersebut, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) didorong untuk mengembangkan peran sebagai nazhir wakaf uang dengan memanfaatkan aplikasi berbasis mobile. Melalui sistem tersebut, masyarakat yang melakukan transaksi wakaf uang dapat langsung memperoleh sertifikat wakaf secara digital.

Tidak hanya menghadirkan forum diskusi, IES 2026 juga memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan UMKM berbasis bisnis syariah. Melalui kerja sama Lembaga Zawa BP Masjid Istiqlal, Universitas Tazkia, dan Duta Ekonomi Syariah, kegiatan ini menyelenggarakan coaching clinic bagi para pelaku UMKM.

Menariknya, peserta coaching clinic tidak hanya mendapatkan pendampingan bisnis, tetapi juga akan dibantu menyusun proposal usaha. Dokumen tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mencari mitra bisnis, menjangkau investor, maupun mengajukan kebutuhan permodalan.

Untuk mengintegrasikan seluruh rangkaian kegiatan, IES 2026 mengembangkan lima jalur utama, yaitu THINK, SHOW, CONNECT, FUND, dan EXPERIENCE.

THINK menjadi ruang pertukaran gagasan, pengetahuan, dialog, dan kebijakan. SHOW menghadirkan pameran produk, marketplace, merek, serta teknologi. CONNECT mempertemukan pelaku usaha, investor, institusi, dan calon mitra bisnis.

Sementara FUND berfokus pada pembahasan investasi, pembiayaan, dan permodalan. Adapun EXPERIENCE menghadirkan unsur budaya, musik, gaya hidup Muslim, generasi muda, dan komunitas untuk memperluas keterlibatan masyarakat.

Melalui lima jalur tersebut, IES 2026 berupaya menghubungkan diskusi dengan peluang bisnis nyata. Pelaku usaha dapat memperkenalkan produk sekaligus membangun jaringan, sedangkan investor dan lembaga keuangan memiliki kesempatan melihat potensi usaha yang membutuhkan dukungan pembiayaan.

Pameran juga menghadirkan berbagai produk dan jasa berbasis syariah dari sejumlah daerah, termasuk partisipasi lembaga keuangan syariah dan pemerintah daerah yang mengembangkan destinasi wisata ramah Muslim.

Penyelenggara mengundang pelaku UMKM, industri halal, pengusaha, startup, investor, lembaga keuangan syariah, institusi pemerintah, akademisi, komunitas, generasi muda, serta masyarakat luas untuk berpartisipasi.

Sebagai founding edition, IES 2026 diharapkan menjadi langkah awal pembentukan platform ekonomi syariah yang berkelanjutan. Penyelenggara menargetkan kegiatan ini dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang memperkuat konektivitas antarpelaku usaha, memperluas kemitraan, serta meningkatkan skala kolaborasi ekonomi syariah Indonesia.

Dengan menjadikan Masjid Istiqlal sebagai pusat pertemuan, IES 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang forum dan pameran, tetapi juga wadah untuk mempertemukan modal, teknologi, gagasan, dan potensi bisnis demi mendorong pertumbuhan ekonomi syariah nasional. (snod)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

banner 800x90