Jakarta ! DelapanPlus.com —
Menjaga eksistensi di panggung hiburan selama lebih dari empat dekade bukanlah perkara mudah. Namun, bagi aktor sekaligus penyanyi senior Thomas Djorghi, popularitas bukanlah segalanya.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, sang maestro secara sadar mulai mengurangi intensitas aktivitasnya di lampu sorot demi mengukuhkan imperium bisnis properti yang telah ia rintis. Langkah strategis ini diambil sebagai jawaban realistis atas fluktuasi industri hiburan yang tidak menentu.
Saat ditemui di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026), pria yang tetap tampil bugar ini membagikan fokus terbarunya kepada publik.
“Lagi sibuk biasalah ya ngurusin properti-properti saya. Ya baik itu hotel maupun kos-kosan,” ungkap Thomas Djorghi dengan nada optimis.
Transformasi Finansial: Dari Panggung Seni ke Aset Riil
Komitmen Thomas di ranah properti bukanlah keputusan impulsif. Ia tercatat telah menancapkan fondasi bisnis hotel sejak tahun 2010.
Guna memperluas portofolio bisnisnya, ia kemudian mengekspansi pasar dengan merambah bisnis hunian sewa atau kos-kosan pada tahun 2024.
Hingga saat ini, skala bisnis yang dikelola Thomas telah berkembang secara terukur, mencakup: Aset Hotel: Total 17 kamar yang beroperasi aktif. Dan Aset Kos-kosan: 10 unit kamar siap huni.
Pilihan diversifikasi ini didasarkan pada analisis matang mengenai stabilitas finansial jangka panjang. Menurut Thomas, industri kreatif menawarkan kepuasan batin, namun properti memberikan kepastian masa depan.
“Kalau artis kan kadang syuting, kadang gak. Kalau kos-kosan sama hotel ya apapun cuacanya berjalan dengan baik begitu. Tapi untuk kos-kosan atau hotel itu untuk jangka selamanya gitu, akan lebih baik,” jelasnya secara logis dan transparan.
Kode Etik dan Dedikasi: Logika Bisnis Tanpa Membunuh Passion
Kendati logika finansial menuntutnya untuk lebih fokus pada bisnis, Thomas menegaskan bahwa keputusannya tidak didasari oleh kejenuhan terhadap dunia seni.
Setelah 41 tahun berkarya, ruang seni telah menjadi bagian integral dari identitas dirinya. Berdasarkan prinsip keberimbangan informasi (fairness), transisi ini murni merupakan bentuk manajemen risiko hidup yang cerdas, bukan sinyal pensiun dini.
“Sama-sama enak. Kalau artis kan, dari hati nurani paling dalam gitu lo. Kalau kos-kosan juga sama, hotel juga sama. Cuma ya karena, saya terjun dunia hiburan udah 41 tahun berkarya, pasti cintanya ke hiburan,” tutur Thomas menutup perbincangan.
Langkah Thomas Djorghi menjadi potret nyata bagi generasi muda dan sesama pekerja seni mengenai pentingnya literasi keuangan.
Ketika popularitas di atas panggung bisa memudar seiring waktu, kepemilikan aset riil yang dikelola secara profesional terbukti menjadi jangkar pengaman yang kokoh untuk jaminan hari tua.
Melalui kalkulasi yang matang dan eksekusi yang konsisten, Thomas Djorghi sukses membuktikan bahwa seorang seniman tidak harus terjebak dalam romantisme masa lalu.
Ketika popularitas menuntut pasang surut yang tak pasti, investasi properti hadir sebagai jangkar yang mengakar kuat. Keberanian sang aktor untuk bertransisi fokus menunjukkan bahwa investasi terbaik adalah yang mampu mengubah popularitas hari ini menjadi kepastian kesejahteraan yang abadi di masa depan.
)**Djunod / Foto Ist.










