Jakarta ! DelapanPlus.com –
Insiden jatuhnya Lexi Valleno Havlenda dari lantai 6 Universitas Tarumanagara (Untar) menyisakan kisah perjuangan yang mendalam. Adik dari penyanyi dan aktris Keisya Levronka ini secara terbuka mengaku sempat berada di titik terendah dalam hidupnya.
Tak sekadar memulihkan cedera fisik yang parah, Lexi harus bertarung melawan guncangan mental yang hebat selama masa rehabilitasi.
Proses pemulihan Lexi menjadi ujian berat yang menguras emosi seluruh keluarga. Ibunda Lexi, Levi, mengungkapkan bahwa kondisi psikologis putranya sempat runtuh akibat keterbatasan fisik yang mendadak harus dihadapinya.
Perubahan drastis tersebut bahkan sempat memicu keputusasaan yang mendalam pada diri Lexi.
“Perjalanannya sangat panjang. Selain pemulihan fisik, kondisi mentalnya juga terguncang hebat. Ia sempat berada di titik paling rapuh hingga terlontar ucapan keputusasaan. Di sinilah peran kami sebagai keluarga untuk tetap berdiri teguh di sampingnya,” ujar Levi saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Rabu (15/7/2026).
Menyadari situasi kritis tersebut, keluarga besar sepakat membentuk benteng emosional demi menjaga mental Lexi.
Seluruh anggota keluarga, termasuk sang kakak dan kerabat, berjanji untuk tidak menunjukkan air mata maupun kesedihan di hadapan Lexi selama masa perawatan di rumah sakit.
Langkah ini diambil agar Lexi tidak terbebani oleh kesedihan orang-orang di sekitarnya dan tetap memiliki motivasi untuk sembuh.
Setahun Mengandalkan Kursi Roda dan Kateter
Perjuangan fisik yang dilewati Lexi memakan waktu yang tidak sebentar. Selama hampir sembilan bulan hingga satu tahun, aktivitas kesehariannya sepenuhnya bergantung pada kursi roda dan alat bantu medis seperti kateter.
Keluarga menyadari bahwa mukjizat besar telah terjadi karena Lexi mampu bertahan hidup setelah jatuh dari ketinggian yang ekstrem.
Meskipun saat ini Lexi sudah bisa kembali beraktivitas, keterbatasan fisik masih membayangi kesehariannya, membuat pemulihan mental tetap menjadi prioritas utama.
Menariknya, meski telah melewati fase trauma yang masif, Lexi mengaku secara singkat bahwa dirinya belum pernah melakukan konsultasi formal dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater untuk memulihkan trauma tersebut.
Harapan Keadilan di Jalur Hukum
Kini, fokus keluarga mulai beralih pada penyelesaian legalitas insiden tersebut. Levi menegaskan bahwa pihak keluarga tidak berniat memperpanjang polemik atau mencari permusuhan.
Kehadiran mereka di persidangan gugatan adalah bentuk ikhtiar untuk menemukan titik temu dan keadilan yang objektif bagi semua pihak.
Pihak keluarga berharap proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Barat ini dapat berjalan lancar dan segera mencapai konklusi yang adil tanpa harus berlarut-larut.
Pada akhirnya, kisah Lexi Valleno bukan sekadar drama hukum atau catatan medis tentang sebuah kecelakaan akademis. Ini adalah manifesto otentik tentang bagaimana sebuah keluarga mampu bertransformasi menjadi jangkar di tengah badai terdahsyat.
Ketika struktur fisik runtuh dan dunia psikologis terguncang, cinta yang tidak egois—yang menyembunyikan air mata demi menumbuhkan tawa—adalah obat terbaik yang tidak tertulis dalam resep dokter, namun terbukti mampu membangkitkan kembali harapan dari dasar jurang keputusasaan yang paling kelam.
)**Djunod / Foto Ist.










