Deskripsi gambar

Ketegaran Rima Sania Pontoh: Warisan Iman, Kejutan Kasih, dan Teladan Tanpa Keluh Bagi Lady Nayoan dan Rendy Kjaernett

Jakarta ! DelapanPlus.com –

Duka mendalam menyelimuti keluarga aktris Lady Nayoan dan sang suami, Rendy Kjaernett. Ibunda tercinta, Rima Sania Pontoh, mengembuskan napas terakhir pada usia 54 tahun 11 bulan di Rumah Sakit pada Senin (24/8/2026) pukul 19.23 WIB.

Almarhumah berpulang setelah tiga tahun berjuang melawan penyakit kanker ginjal. Kepergian sosok pendoa yang dikenal tak pernah mengeluh ini meninggalkan warisan ketegaran, kasih, dan keteladanan iman yang mendalam bagi keluarga serta masyarakat.

Sejak didiagnosis mengidap kanker ginjal pada tahun 2023, Rima Sania Pontoh menjalani serangkaian perawatan medis yang intensif, termasuk prosedur kemoterapi dan radiasi. Meski sempat mengalami masa pemulihan, kondisi kesehatan almarhumah kembali menurun (relapse).

Kendati harus melewati proses pengobatan yang berat selama tiga tahun, almarhumah konsisten menampilkan ketabahan di hadapan anak dan menantunya.

Suasana duka di Rumah Duka Adian Nasonang Raya, Mustika Jaya, Bekasi, pada Selasa (25/8/2026), menjadi saksi betapa besarnya penghormatan keluarga terhadap perjuangan hidup almarhumah.

Rendy Kjaernett mengenang mertuanya sebagai pilar kekuatan keluarga yang tidak pernah memperlihatkan beban penderitaannya kepada orang lain.

“Mama itu sosok yang luar biasa. Bagaimanapun kondisi dan beratnya keadaan, Mama tidak pernah memperlihatkan kalau beliau ikut merasa susah. Ketegarannya selalu menguatkan kami semua,” ungkap Rendy Kjaernett.

Dukungan Spiritual dan Kejutan Ulang Tahun yang Berkesan

Hubungan antara Rendy Kjaernett dan Rima Sania Pontoh terjalin kian erat dalam beberapa waktu terakhir. Almarhumah memberikan dukungan penuh atas keputusan Rendy untuk mendalami pendidikan teologi dan melayani sebagai hamba Tuhan. Dalam setiap pertemuan, almarhumah senantiasa meminta didoakan agar diberikan kesembuhan.

Salah satu kenangan terindah yang paling membekas bagi Rendy terjadi pada momen ulang tahunnya baru-baru ini. Tanpa disangka, almarhumah memberikan kejutan manis pada larut malam.

“Momen paling berkesan adalah saat ulang tahun saya kemarin. Malam-malam Mama mengetuk pintu kamar untuk memberikan kejutan. Beliau lalu berbisik, ‘Doain Mama ya biar sembuh kalau didoain hamba Tuhan.’ Sifat penyayang dan kerendahan hatinya selalu menjadi dorongan besar bagi saya untuk terus melayani,” kenang Rendy.

Fondasi Iman dan Teladan Bagi Lady Nayoan

Bagi Lady Nayoan, sang ibu adalah sosok guru kehidupan utama yang membentuk ketahanan mental dan spiritualnya. Keteguhan hati yang kerap diperlihatkan Lady dalam menghadapi ujian hidup berakar langsung dari ajaran dan keteladanan almarhumah.

Rima Sania Pontoh senantiasa mengingatkan anak-anaknya agar tidak menyandarkan hidup pada kekuatan manusia, melainkan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala situasi.

“Banyak orang bertanya mengapa saya bisa tetap kuat. Jawabannya karena Mama selalu mengingatkan bahwa kita kuat karena ada Tuhan. Dari Mama, saya belajar untuk terus percaya kepada-Nya. Beliau adalah pendoa yang luar biasa,” tutur Lady Nayoan.

Rima Sania Pontoh telah menyelesaikan pertandingan kehidupannya dengan memelihara iman hingga embusan napas terakhir.

Kepergiannya bukan sekadar akhir dari perjuangan fisik melawan sakit, melainkan sebuah monumen abadi tentang bagaimana kasih, ketegaran, dan doa mampu melampaui penderitaan raga. Jiwa pendoa dan jejak kebaikannya kini tinggal abadi—menjadi obor penerang yang terus membakar semangat pelayanan, ketabahan, dan keteguhan iman bagi keluarga yang ditinggalkan.

)**Djunod / Foto Ist.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *