Deskripsi gambar

Drummer Cilik Shelyn Adlyani dari Sorong Mengiringi Band Lokal Tiga Jam Nonstop

Selama sekitar tiga jam pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026 lalu, seorang bocah delapan tahun duduk di balik drum di sebuah kafe di Sorong, Papua. Ia bukan penonton yang naik panggung sebentar untuk berfoto. Ia mengiringi band dari lagu pertama sampai terakhir.

Bocah itu bernama Shelyn Adlyani Hendroharto, malam itu ia diajak grup band lokal Selagi Atmost tampil di kafe Selagi Dingin. Daftar lagunya tidak ringan untuk pemain yang masih duduk di kelas 3 SD Golden Gate Sorong. Ada lagu “Tabola Bale”, “Tor Monitor”, “Pergi Pagi Pulang Pagi”, “Ngapain Mo Repot”, “Cari Jodoh”, “Puspa”, “4 Mata”, “Ojo Dibandingke”, hingga “Cari Pacar Lagi”. Semuanya lagu yang akrab di telinga penonton dan menuntut tempo yang stabil dari awal hingga akhir.

Di sela pertunjukan, para personel band sempat menyapa drummer termuda di panggung itu. Percakapannya singkat dan menunjukkan betapa mereka terkesan. “Halo. Kamu main drum dari umur berapa?” tanya sang vokalis kepada Shelyn.Iya menjawab, “Dari umur 6 tahun, sekarang 8 tahun,” jawab Shelyn. “Luar biasa dari sekecil ini sudah bisa ngeband bareng kami,” ujar sang vokalis mengapresiasi kemampuan Shelyn.

Apa yang terlihat di kafe itu adalah hasil proses yang cukup panjang. Shelyn lahir di Sorong pada 5 Maret 2018. Sebelum menekuni drum, ia lebih dulu mengenal beberapa alat musik lain. Untuk mengasah kemampuannya, ia rutin berlatih di Purwacaraka Music Sorong di bawah bimbingan Yada Simamora.

Di sana Shelyn mempelajari teknik dasar bermain drum dan melatih kemampuan menjaga ritme saat mengiringi lagu. Kemampuan terakhir inilah yang paling diuji ketika ia harus bertahan tiga jam bersama musisi yang jauh lebih tua.

Latihan itu perlahan membuka pintu. Shelyn pernah diundang menjadi bintang tamu di sejumlah podcast dan media, dan beberapa kali tampil bersama grup musik. Namanya melekat pada Tabola Bale, lagu yang sering ia mainkan dan membuat orang mengenalnya sebagai “drummer Tabola Bale”.

Julukan itu pula yang mempertemukannya dengan salah satu musisi yang ia kagumi, Juan Reza. Saat Shelyn diperkenalkan sebagai drummer yang kerap membawakan Tabola Bale, Juan Reza menyambutnya hangat dan mengajaknya berfoto bersama. “Drummer Tabola Bale? Oh iya? Kamu cantik sekali,” ujar Juan Reza saat bertemu Shelyn beberapa waktu lalu.

Di luar panggung, minat Shelyn ternyata tidak terpaku pada musik. Ia juga menyukai menembak, diving, dan panjat tebing. Dalam bermusik pun ia tidak mau berhenti di satu instrumen. Selain drum, ia belajar gitar dan keyboard.

Alasannya sederhana, dengan menguasai lebih banyak alat musik, baginya, berarti lebih banyak ruang untuk berkreasi, sekaligus cara untuk membuat orang di sekelilingnya senang. “Aku ingin bisa main banyak alat musik supaya bisa menghibur teman-teman dan guru di sekolah,” tuturnya.

Keinginan itu kecil dan dekat dengan dunianya, yakni teman sekelas dan guru di sekolah. Namun dari situlah dorongan belajarnya tumbuh. Dengan latihan yang rutin dan panggung yang makin sering menyapa, Shelyn Adlyani menjadi salah satu contoh bakat musik anak dari Papua yang dibangun lewat ketekunan, bukan sekadar kejutan sesaat. (donz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *