Deskripsi gambar

Benteng Hijau Pesisir Nusantara: Mengapa RPPEM Nasional 2026–2055 Jadi Kunci Keselamatan Ekosistem dan Ekonomi Kita?

Jakarta ! DelapanPlus.com –

Indonesia secara resmi memegang tongkat kepemimpinan global dalam penyelamatan iklim dunia. Dengan luas 3,45 juta hektare—menyuplai sekitar 20% dari total ekosistem mangrove di muka bumi berdasarkan Peta Mangrove Nasional (Kepmenhut No. 594/2025)—mangrove Nusantara bukan lagi sekadar tanaman pesisir, melainkan benteng pertahanan utama masyarakat dari ancaman abrasi, intrusi air laut, hingga badai ekstrem.

Menyikapi urgensi tersebut, Pemerintah Indonesia mengesahkan langkah monumental: Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPEM) Nasional 2026–2055 melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 2412 Tahun 2026.

Dokumen jangka panjang tiga dekade ini menjadi pijakan strategis untuk memperkuat ketahanan iklim nasional, mendukung visi Indonesia Emas 2045, mempercepat target Enhanced NDC, serta mengukuhkan komitmen pencapaian Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Menerjang Tekanan, Menguatkan Tata Kelola Multipihak

Meski menyimpan cadangan karbon raksasa yang melampaui hutan daratan, mangrove Indonesia tak luput dari ancaman masif: alih fungsi lahan, pencemaran kawasan pesisir, hingga dampak nyata perubahan iklim.

RPPEM Nasional 2026–2055 hadir menjawab tantangan tersebut melalui 8 Pilar Utama :

1. Perlindungan Ekologis: Menjaga benteng mangrove yang masih utuh.
2. Rehabilitasi & Restorasi: Memulihkan kawasan yang terdegradasi.
3. Pemanfaatan Berkelanjutan: Mendorong ekonomi masyarakat berbasis perikanan, ekowisata, dan HHBK.
4. Penegakan Hukum & Kelembagaan: Memperkuat tata kelola pesisir.
5. Riset & Inovasi Teknologi: Membangun sistem pemantauan berbasis data presisi.
6. Peningkatan Kapasitas: Mengedukasi masyarakat pesisir dan pemda.
7. Pembiayaan Inovatif: Membuka akses investasi hijau, filantropi, dan dana iklim.
8. Kemitraan Multipihak: Menghubungkan seluruh elemen bangsa.

Kolaborasi Nyata: Dari Hutan Desa hingga Hari Mangrove Sedunia 2026

Implementasi RPPEM Nasional tidak bisa dibiarkan berjalan secara sektoral. Semangat gotong royong lintas lembaga menjadi motor penggerak utama di lapangan.

“RPPEM Nasional 2026–2055 membuktikan bahwa Indonesia memiliki visi jangka panjang yang jelas. Mangrove yang sehat bukan hanya menghasilkan manfaat ekologis, tetapi juga menciptakan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir secara langsung. Sejak 2023, kami telah mendampingi masyarakat pesisir melalui skema Hutan Desa di Indragiri Hilir, Riau untuk membuktikan potensi ekonomi ini,” tegas Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation sekaligus pengajar Manajemen Lingkungan Universitas Pakuan.

Menyambut Hari Mangrove Sedunia pada 26 Juli 2026, Belantara Foundation bersama Klaster Lingkungan Hidup dan Konservasi Filantropi Indonesia menggelar kampanye bertajuk “Jaga Mangrove, Kehidupan Lestari”.

Edukasi ini dikemas secara inklusif melalui kunjungan edukatif siswa SD ke hutan mangrove, kampanye digital, seminar nasional, hingga aksi penanaman pohon langsung.

Filantropi dan Pemberdayaan: Investasi Murni untuk Masa Depan

Dukungan serupa ditegaskan oleh Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) dan lembaga pemberdayaan masyarakat.
Sinergi Filantropi: Plt. Direktur Eksekutif PFI, Rully Amrullah, menuturkan bahwa RPPEM Nasional memberikan kerangka terarah bagi lembaga swasta dan masyarakat untuk berinvestasi pada konservasi iklim yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga pesisir.

Pemberdayaan Masyarakat: Irvan Nugraha, CEO Rumah Zakat sekaligus Koordinator Klaster Lingkungan Hidup PFI, menegaskan bahwa akar dari pelestarian ekosistem adalah peningkatan kualitas hidup manusia di sekitarnya.

Pemberdayaan ekonomi warga pesisir harus berjalan seiring dengan restorasi alam.

Penyelamatan ekosistem mangrove hari ini bukanlah sekadar pilihan kebijakan di atas kertas, melainkan janji hidup mati bagi keselamatan pesisir Nusantara dan masa depan iklim bumi.

Ketika negara, lembaga filantropi, akademisi, dan masyarakat bergerak serentak dalam satu napas RPPEM Nasional 2026–2055, kita sedang memancangkan fondasi ketahanan bangsa yang tak tergoyahkan oleh zaman.

Sebab menjaga akar mangrove hari ini adalah cara paling terhormat untuk merawat kehidupan dan kedaulatan Indonesia di masa depan.

)**Tjoek / Foto Ist

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *