Deskripsi gambar

Venna Melinda : Pentingnya Menyadari Siklus Hidup dan Peran Utama Seorang Ibu Sebagai Pemegang Amanah

Jakarta ! DelapanPlus.com –

Memasuki fase kehidupan saat ini, Vena Melinda menegaskan pentingnya menyadari siklus hidup dan peran utama seorang ibu sebagai pemegang amanah.

Dua kali membina rumah tangga dan berujung kegagalan tak lantas membuat Venna Melinda kehilangan arah hidup. Aktris sekaligus figur publik ternama ini memilih menutup rapat pintu hatinya untuk pasangan baru dan mengalihkan seluruh fokus, energi, serta kasih sayangnya demi masa depan ketiga buah hatinya: Verrell Bramasta, Athalla Naufal, dan Vania Athabina.

Bagi Venna, pahit manis perjalanan pernikahan di masa lalu bukanlah alasan untuk meratapi nasib, melainkan sebuah laboratorium pembelajaran yang sangat berharga.

“Kayaknya udah pernah nikah dua kali, meskipun gagal itu kan pembelajarannya banyak. Jadi mendingan waktunya yang sekarang itu buat doain Mas Verrell, Athalla, jagain Vania, mendidik dia nanti jadi orang sukses,” ujar Venna Melinda di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan.

Belajar Mandiri dari Keteladanan Ibunda

Langkah tegas Venna untuk berdiri di atas kaki sendiri tak lepas dari role model terdekat dalam hidupnya, yaitu sang ibunda. Di usianya yang telah menginjak lebih dari 70 tahun, ibunda Venna tetap menunjukkan vitalitas luar biasa: aktif berorganisasi, menyetir kendaraan sendiri, hingga mengikuti puluhan kegiatan sosial tanpa bergantung pada anak-anaknya.

Kemandirian tersebut membentuk perspektif baru bagi Venna. Menurutnya, kesehatan fisik yang prima berawal dari hati dan pikiran yang bersih dari ekspektasi berlebihan.

Menjaga Kesehatan Mental: Menghindari beban pikiran berlebih agar tidak memicu gangguan kesehatan fisik di usia matang.

Memberi Ruang Kepada Anak: Tidak memaksakan kehendak atau menuntut kehadiran anak di tengah kesibukan mereka.

Kemandirian Emosional: Memiliki kegiatan positif agar tetap berdaya dan tidak menjadi beban psikologis bagi keluarga.

Venna menyadari betul bahwa mendampingi tumbuh kembang putri bungsunya, Vania, membutuhkan stamina fisik dan mental yang ekstra. Ia memilih untuk mendoakan dan memberikan dukungan penuh dari belakang, ketimbang menuntut perhatian berlebih dari anak-anaknya yang kini mulai dewasa dan meniti karir masing-masing.

“Anak gak bisa, kita bukan marah-marah, ya udah didoain aja. Anak lebih senang punya ibu yang seperti itu,” pungkasnya penuh ketenangan.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati seorang wanita tidak selalu diukur dari hadirnya sosok pendamping di sisi, melainkan dari ketulusan hati saat merawat amanah Tuhan dan ketangguhan jiwa untuk terus berdaya secara mandiri.

)**Djunod/ Foto Ist.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *