Madiun ! DelapanPlus.com –
Upaya melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045 kian masif bergerak hingga ke tingkat desa. Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN Provinsi Jawa Timur bersama Komisi IX DPR RI menggelar Sosialisasi Program Bangga Kencana di Balai Desa Kaligunting, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Sabtu (12/9/2026).
Langkah kolaboratif ini hadir secara langsung mendampingi warga Madiun untuk mengikis angka kekerdilan anak (stunting) serta memperkuat ketahanan keluarga dari unit terkecil.

Ketahanan Keluarga dan Penekanan Pentingnya Peran Ayah
Dalam kegiatan yang dihadiri warga Mejayan tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Muhammad Yahya Zaini, S.H., menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi paling sentral dalam menentukan kesejahteraan negara. Yahya menyoroti maraknya fenomena pengasuhan tunggal oleh ibu (fatherless) akibat minimnya keterlibatan fisik dan emosional seorang ayah.
“Bagi keluarga, ayah tidak semata-mata mencari kehidupan atau mencari rezeki, tetapi juga harus memberikan pengasuhan terhadap anaknya. Kalau keluarganya sejahtera dan bahagia, maka negara tersebut akan sejahtera dan bahagia,” tegas Yahya.
Sinergi ini turut dihadiri oleh Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jawa Timur, Shodiqin, S.H., M.M., serta Kepala Dinas PPKB PPPA Kabupaten Madiun, Drs. H. Hendro Suwondo, M.Pd.

5 Program Quick Wins Kemendukbangga untuk Keluarga Quality
Guna mengakselerasi penurunan stunting nasional yang saat ini berada pada angka 19,8%, Kemendukbangga mengusung 5 Program Hasil Cepat (Quick Wins).
SAMATA (Sama-Sama Masuk Sayang Anak) Standardisasi daycare wajib pengasuh tersertifikasi, psikolog, dan dokter anak.
GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia) Mendorong keterlibatan aktif ayah untuk mencegah dampak fatherless.
Lansia Berdaya yakni Pemberdayaan lansia produktif melalui Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH).
Aplikasi Keluarga yaitu
Digitalisasi layanan konseling keluarga dan program Bangga Kencana.
Kunci Utama: Intervensi Masa Emas 1.000 HPK
Pencegahan stunting paling krusial terletak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—dimulai dari 270 hari masa kandungan hingga 730 hari setelah lahir. Periode ini menjadi penentu utama karena 80% perkembangan otak anak terjadi pada rentang usia tersebut.
Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Shodiqin, S.H., M.M., menambahkan bahwa proteksi anak dari risiko stunting wajib digencarkan bahkan sebelum pernikahan berlangsung.
“Kalau kondisi calon ibu sehat, kita berharap kehamilannya sehat dan anak yang dilahirkan juga sehat. Karena itu, pencegahan stunting harus dimulai bahkan sebelum terjadi kehamilan—sejak masa calon pengantin,” ujar Shodiqin.
Untuk mempercepat capaian Madiun Bebas Stunting, para ayah diimbau melakukan efisiensi pengeluaran harian, salah satunya dengan menekan konsumsi rokok demi mengalihkan anggarannya pada pembelian pangan tinggi protein hewani—seperti telur, ikan, dan daging—bagi ibu hamil.
Stunting adalah kerugian permanen yang tidak dapat disembuhkan, namun sepenuhnya dapat dicegah secara bersama-sama. Melalui pembagian peran yang seimbang antara ayah dan ibu, pemenuhan gizi yang tepat pada periode 1.000 HPK, serta dukungan berkelanjutan dari institusi negara, bumi Madiun optimis melahirkan generasi yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga unggul secara intelektual—membuka jalan lapang bagi tegaknya kejayaan Indonesia Emas 2045.
)**Yuri / Foto Ist










