Deskripsi gambar

Menembus Batas Gelap : Tasya Dari Panggung Tari dan Modeling ke Karya Inklusif Film ‘Terangku Dalam Gelapku’

Denpasar ! DelapanPlus.com –

Dunia seni peran dan seni pertunjukan Bali kembali melahirkan sebuah karya visual yang menyentuh nurani. Dari panggung tari dan modeling hingga ke karya Inklusif dari film Terangku Dalam Gelapku.

Mengangkat tema keberagaman dan kesetaraan, film berjudul Terangku Dalam Gelapku hadir sebagai wujud nyata dari perjuangan serta persahabatan anak-anak difabel yang kerap luput dari perhatian publik.

Di balik layar, film ini membawa kisah inspiratif seorang remaja berbakat bernama Ni Putu Sri Widia Meganatasya, atau yang akrab disapa Tasya. Meskipun hidup sebagai penyandang disabilitas sejak kecil, keterbatasan fisik sama sekali tidak mengikis semangatnya untuk terus berkembang dan berkarya.

Bakat Lahiriah dan Prestasi Tanpa Batas

Lahir dari pasangan I Made Sukanaya dan Ni Luh Ketut Nina Handayani Puspasari, Tasya telah menunjukkan kecintaan yang luar biasa pada dunia seni sejak dini. Dia gemar menari, menekuni bidang modeling, serta aktif di dunia film, namanya telah dikenal di panggung fashion serta kompetisi seni di Bali, Jakarta, hingga berbagai kota kota besar di Indonesia.

Tidak hanya berbakat di panggung hiburan, terbukti pula mampu menjaga keseimbangan antara akademis dan karier seninya ini. Di lingkungan sekolahnya, Tasya aktif mengikuti berbagai perlombaan dan menorehkan prestasi yang membanggakan.

“Saya sangat menyukai dunia seni—mulai dari menari, modeling, hingga akting. Di sekolah tetap jalan, kegiatan syuting juga berjalan lancar,” ujar Tasya saat membagikan pengalamannya dengan caranya itu.

Ketika dirinya dipercaya menjadi pemeran dalam film Terangku Dalam Gelapku, Tasya mengaku tidak sedikit pun merasa minder. Kepercayaan dirinya serta kedewasaan mentalnya di depan kamera justru menjadi energi pendorong bagi seluruh tim produksi.

Ni Putu Sri Widia Meganatasya bersama Ni Pande Putu Rahayu Mustika Dewi

Narasi Inklusif dan Penggarapan Berdedikasi

Film “Terangku Dalam Gelapku” menyoroti realitas kehidupan serta indahnya jalinan persahabatan lintas batas antara anak-anak tuna rungu, tuna daksa, tuna netra, hingga disabilitas lainnya. Melalui alur yang emosional, film ini menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi lahirnya empati dan kasih sayang sejati.

Sutradara sekaligus penulis skenario film ini Ni Pande Putu Rahayu Mustika Dewi, atau yang akrab disapa Mimi Jegon—mengungkapkan bahwa film drama disabilitas ini digarap dengan pendekatan ketulusan yang mendalam. Berbeda dari karya-karya komersial pada umumnya, karya ini diproduksi dengan perhatian ekstra pada setiap detailnya.

“Film ini sangat dekat dengan perasaan kita. Kita harus menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Proses pengarahannya membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra selama dua bulan produksi karena fokus utama kita adalah menyoroti potensi dan ketulusan mereka,” ungkap sang sutradara, Mimi Jegon.

Dedikasi yang tinggi terlihat dari seluruh proses produksi. Skenario film disusun secara intensif dalam waktu singkat (H-5 sebelum syuting), sementara soundtrack lagu diciptakan langsung oleh sang sutradara. Tidak hanya itu, sutradara juga turun tangan langsung memberikan coaching hingga mengatur wardrobe dari para pemain agar mereka merasa nyaman di set syutingnya.

Proses pengambilan gambar berlangsung selama dua bulan penuh dengan mengambil lokasi-lokasi ikonik di Bali, seperti Jimbaran, Denpasar, dan Gianyar. Pendekatan humanis dan suasana kekeluargaan selama syuting terbukti membuat seluruh proses produksi berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Pesan Moral dan Harapan Masa Depan

Kehadiran film “Terangku Dalam Gelapku” menjadi angin segar dalam industri perfilman lokal maupun nasional. Karya ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah refleksi sosial yang mengajak masyarakat untuk memandang disabilitas bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai bentuk keberagaman potensi manusia.

Keberhasilan Tasya dan seluruh jajaran pemain serta kru menunjukkan bahwa ketika ruang inklusi dibuka selebar-lebarnya, anak-anak dengan kebutuhan khusus mampu melangkah tegak dan memancarkan cahayanya sendiri.

Pada akhirnya, “Terangku Dalam Gelapku” membuktikan satu hal mendasar: kegelapan tidak pernah disebabkan oleh keterbatasan fisik, melainkan oleh keengganan mata hati kita untuk melihat potensi sesama.

Lewat keteguhan langkah Tasya dan kesungguhan seluruh tim produksi, film ini resmi mengetuk pintu kesadaran kita bahwa setiap jiwa berhak atas panggung yang sama untuk bersinar, menginspirasi, dan menemukan terangnya sendiri.

)**Djunod / Tjoek / Foto Ist.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *